skip to Main Content
How To Coach Your Gen Y

How to Coach Your Gen Y

by Nila Widowati, Senior Consultant, Coach, Facilitator

Diskusi mengenai generasi milllineal atau Gen Y, yaitu generasi yang lahir setelah tahun 1980, seperti tidak ada habisnya. Berdasarkan pengalaman kami dengan para Leader di workshop, secara umum para Leader merasa positif dengan performa dari Gen Y. Justru mereka tertarik untuk mengetahui bagaimana memberi Coach yang efektif sehingga potensi mereka tidak tersia-siakan. 

Hal tersebut didukung dalam satu research yang telah dipublikasikan melalui buku “What Millennials Want from Work”, oleh Center for Creative Leadership, Januari 2016 bahwa hal yang mendukung Gen Y atau Millennials diantaranya adalah kesempatan untuk mendapatkan dukungan dan feedback yang efektif serta  kesempatan diberikan Coaching. 

 

Maka peranan atasan yang mampu menggali potensi mereka, sekaligus dapat memberikan ‘the right challenge’ bagi para Gen Y, tentunya akan membantu mengembangkan mereka menjadi ‘Future Leader’. 

Lalu bentuk coaching seperti apa yang sesuai? Berikut ini adalah beberapa best practise yang telah kami terapkan, yang sesungguhnya tidak hanya efektif dalam memberikan coaching kepada Gen Y, namun juga kepada generasi yang lain. 

 

  1. Clarity of Expectation  

Penting sekali untuk menetapkan ekspektasi atau tujuan yang jelas dan spesifik diawal diskusi dalam coaching. Bila terjadi perbedaan persepsi atau berasumsi bahwa kesepakatan sudah jelas, maka saat hasil akhir ternyata tidak sesuai, dapat terjadi pandangan bahwa salah satu pihak tidak kompeten. Ibaratnya definisi dari ‘pemimpin tegas’ dapat mempunyai makna atau persepsi yang berbeda-beda. 

Lalu bagaimana cara yang efektif untuk meminimalisir hal tersebut? Salah satunya dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang bersifat menggali secara spesifik apa yang dimaksud.  Dengan penggalian yang tepat maka akan diperoleh ekspektasi, tujuan atau maksud yang sebenarnya.  

Pertanyaan yang dapat diajukan misalnya “Apa yang menjadi ekspektasi anda dalam situasi ini?”, “Apakah anda dapat menggambarkan secara lebih spesifik tentang hal tersebut?”, “ Bagaimana anda mendeskripsikan bila hal itu tercapai?” Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka ketidakjelasan dari suatu tujuan dapat dihindari sehingga dapat tercipta kesepakatan akan Goal yang sama.  

 

  1. Clarity of Feedback 

Gen Y dikenal dengan cara berkomunikasi secara langsung, apa adanya sesuai dengan fakta yang mereka lihat dan rasakan. Gaya berkomunikasi seperti ini kadang  dipersepsikan kurang sopan karena  tidak melihat tempat dan waktu. Namun apakah memang demikian? Hal ini dapat saja timbul karena adanya perbedaan persepsi. Apa kemudian yang dapat membantu menyelaraskan situasi tersebut? Salah satunya dengan saling memberikan umpan balik atau feedback. Lalu feedback seperti apa yang efektif, yang tidak menyinggung orang lain, yang dapat menuju sasaran yang tepat, dan tidak menimbulkan konflik baru?  

Bayangkan  saat anda memberikan feedback kepada seseorang dianggap kurang sopan karena gaya berbicaranya terlalu to the point dan tanpa basa basi. Apakah feedback tersebut efektif atau tidak? 

Ada baiknya feedback diberikan dengan situasi yang spesifik, dan tidak didasari penilaian anda terhadap suatu perilaku. Contohnya Anda mengatakan “Saya merasa anda kurang sopan terhadap anggota tim di meeting tadi, lebih baik anda merubah cara  berkomunikasi terhadap mereka..” Penyampaian seperti itu dapat membuat seseorang  tersinggung karena dikatakan ‘kurang sopan’ dan ia juga tidak jelas memahami apa yang semestinya ia lakukan.  

Sebaiknya  sampaikanlah dengan cara yang lebih spesifik, “ Saya lihat sewaktu tim sedang meeting tadi, anda memotong pembicaraan A dengan kata-kata: “… sudah-sudah saya telah mengerti maksud kamu... sambil anda menunjukkan telapak tangan ke arah A. Efeknya saya lihat A terkejut dan langsung terdiam dan tim yang lain saling berpandangan.” 

Dengan penyampaian feedback yang kedua, kita hanya fokus pada perilaku yang sesungguhnya  tanpa disertai interpretasi kita dari perilaku tersebut. Kata-kata : ‘sudah-sudah saya telah mengerti maksud kamu dan telapak tangan mengarah ke A’ adalah perilaku. Sedangkan ‘anda kurang sopan’ bukanlah perilaku tapi interpretasi kita dari perilaku tersebut. Sehingga semakin spesifik dan hanya menyampaikan perilaku, maka bentuk feedback menjadi lebih jelas serta terhindar dari asumsi personal. 

 

  1. Clarity of Motivation & Challenge 

Yang dimaksud disini adalah, sebagai Leader atau Coach, kita harus dapat memberikan motivasi dan apresiasi atas proses dan hasil yang dicapai oleh anggota tim. Demikian pula saat memberikan challenge atau tanggung jawab yang menantang harus disertai penjelasan atas maksud diberikannya tantangan tersebut.  

Sebagai contoh, seorang Leader merasa anggota timnya termasuk seseorang yang potensial dan untuk mengembangkan potensi orang tersebut, Leader memberikan tanggung jawab lebih dan ia terus memberikan challenge. Akibat dari pemberian tanggung jawab lebih ini bila tidak disertai penjelasan mengenai mengapa anggota tim ini diberikan tugas yang lebih dibandingkan yang lain, anggota tim ini justru dapat merasa demotivasi, penurunan semangat , bahkan bisa sampai minta keluar dari tim.  

Komunikasikan dengan jelas, saat tantangan yang diberikan memang untuk pengembangan dirinya, beri kesempatan untuk berdiskusi dan jadilah Coach untuknya, dimana Anda dapat menghargai proses yang ia lalui. Dengan demikian maksud pengembangan akan tercapai dan tidak disalahartikan sebagai punishment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top