skip to Main Content
Saatnya Untuk Berempati

Saatnya Untuk Berempati

Perubahan bukanlah merupakan suatu yang mudah dan nyaman. Apalagi bila hal tersebut bersifat mendadak, tidak terencana, namun harus dilakukan. Seperti situasi saat ini, dimana seluruh dunia sedang berhadapan dengan krisis yang diakibatkan oleh penyebaran virus covid-19, menuntut orang-orang untuk mengurangi bahkan berhenti beraktivitas diluar rumah.

Dampak yang dirasakan salah satunya adalah kecemasan dan kekhawatiran tentang bagaimana menjalani kegiatan sehari-hari dalam suasana keterbatasan. Bagi para karyawan yang diminta untuk bekerja dari rumah, maka mereka harus melakukan perubahan dan beradaptasi dalam membagi waktu, tenaga serta fokus saat melakukan tugas pekerjaan dan kegiatan rumah tangga.

Sebagai leader, anda turut memegang peranan dalam menjaga motivasi dan semangat dari tim anda, meskipun interaksi secara langsung menjadi berkurang, diharapkan tetap dapat memberi motivasi ke tim. Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana dapat memotivasi kalau saya sendiri pun juga mengalami hal yang serupa, atau sulit rasanya bila tidak bertatap muka langsung karena saya tidak dapat merasakan atau melihat apa yang sesungguhnya terjadi.

Kecenderungan dari leader saat berjauhan dengan timnya adalah ingin melakukan monitoring secara ketat, ingin meyakinkan bahwa tugas terlaksana baik sehingga tidak ada yang terlewat atau salah dalam
pengerjaannya. Akibatnya akan terjadi proses micro-managing , untuk memastikan segala sesuatunya secara terperinci dan sampai mendetil. Ada sisi lain yang ditimbulkan dari pendekatan seperti itu, yaitu tim akan merasa tertekan, tidak merasa dipercaya, stres, dan menurunkan motivasi mereka. Apalagi ditambah dengan situasi krisis saat ini, semakin membuat mereka merasa terhimpit oleh keadaan.

Maka untuk kondisi krisis seperti ini peran leader yang lebih cocok adalah seorang leader yang dapat menunjukkan empati. Mengambil peran ini menjadi satu langkah yang cukup penting dan bermakna, karena dampak yang dirasakan adalah dapat meningkatkan rasa saling percaya dan berefek pada produktivitas.

Beberapa langkah yang dapat mulai anda lakukan untuk menjadi seorang leader yang lebih empati adalah:

Mulailah dengan menjadi pendengar yang baik

Luangkan waktu anda untuk melakukan dialog individual dengan masing-masing anggota tim. Bertanyalah bagaimana situasi mereka saat ini, bila anda sudah mengetahui kondisi keluarganya anda dapat bertanya bagaimana pengalamannya mengurus keluarga selama harus bekerja dari rumah.

Saat mendengarkan ceritanya, tahan diri anda untuk tidak memberikan input atau saran. Cobalah dengan hanya mengajukan pertanyaan seperti ..Bagaimana kondisi ini mempengaruhimu? ..Apa yang menjadi dampak buat kamu saat ini? ..Apa yang saat ini kamu rasakan? ..Apa yang kamu pikirkan saat ini? ..Apa yang kamu inginkan?..dan seterusnya, dengan maksud agar ia dapat terbuka dan anda  lebih memahami kondisinya.

Memberikan waktu dan tempat untuk eksplorasi

Kadang  saat kita telah mendengar kisah atau situasi dari orang lain, kita tergerak untuk memberikan saran atas dasar hipotesa yang kita buat setelah mendengar kisahnya. Hipotesa ini bisa muncul karena pengalaman kita yang mungkin mirip, atau kita berpikir bahwa situasi tersebut sebetulnya ada solusinya.

Bila anda ingin melatih empati anda, maka jangan langsung buru-buru memberikan saran atau solusi. Coba tingkatkan rasa ingin tahu anda dengan melakukan eksplorasi lebih lanjut dari situasi dirinya. Pada intinya adalah, berpindah bukan anda sebagai ahli atau expert disini karena anda atasannya, namun dia adalah ahlinya karena ia yang lebih tahu tentang kondisi dirinya.

Selanjutnya galilah dengan pertanyaan seperti misalnya, ..Menurut kamu apa yang seharusnya terjadi? ..Langkah apa yang dapat kamu lakukan? ..Apa yang menjadi penghalangmu? ..dan seterusnya, sehingga ia akan  mulai berpikir dan mencari tahu sendiri apa yang mungkin bisa menjadi solusi yang sesuai dengan kondisinya.

Memberikan jeda, ‘diam adalah emas’

Saat bertanya, kita biasanya ingin segera mendengar jawaban. Bila orang tersebut diam biasanya kita akan mengulang kembali pertanyaan atau memfrase ulang pertanyaan dengan pikiran mungkin pertanyaan tadi kurang jelas sehingga ia tidak menjawab. Padahal bila kita tetap menunggu dan tetap diam saat orang tersebut tidak menjawab, akan memberikan waktu dan ruang agar ia berpikir tanpa harus merasa diburu-buru.

Ada pepatah , ‘silent is gold ‘ atau ‘diam itu adalah emas’. Pada konteks ini, dengan kita tetap diam dan membiarkan suasana hening, justru akan menciptakan ruang berpikir bagi dirinya dan akan membuat dirinya dapat menemukan sendiri jawabannya. Mengapa hal itu dapat terjadi? Karena suasana hening akan membuat ia dapat mencerna dan mengolah pikiran atau perasaannya sendiri – tanpa ada rasa keharusan untuk menjawab. Kalaupun ia memang tidak jelas akan pertanyaannya, tentu ia akan bertanya apa maksud pertanyaan tersebut ke anda.

Anda tidak perlu khawatir atau takut, bila terus berdiam diri  akan terasa aneh. Karena biasanya mereka yang akan memulai pembicaraan terlebih dulu jika mereka merasa kurang nyaman dengan suasana hening. Intinya dengan menciptakan jeda setelah anda bertanya maka anda akan dapat membuka ruang pemikirannya   lebih luas lagi.

Beberapa langkah tersebut kiranya dapat membantu anda untuk menunjukkan empati kepada anggota tim. Cobalah untuk percaya pada proses dan tidak terburu-buru ingin mencapai hasil dari dialog individual tersebut. Meskipun kelihatannya dia belum memiliki solusi yang komprehensif atas situasi dirinya, dengan ia dapat sharing bercerita pada anda serta merasa mendapat ruang yang cukup untuk introspeksi dan berpikir tanpa adanya tuntutan, sudah cukup memberikan rasa lega dan tenang. Sehingga dampak lain yang timbul adalah adanya rasa percaya yang nantinya dapat meningkatkan motivasi untuk lebih produktif karena ada perasaan dihargai dan didengarkan.

Nila Widowati, Asian Leadership Centre, ©️ 2020   nwidowati@asian-leadership.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top