skip to Main Content
Engage Gen Y

Engage Gen Y

by Nila Widowati, Senior Consultant, Coach, Facilitator 

Tipikal stereotipe yang muncul terhadap Gen Y apabila seseorang ditanyakan mengenai Generasi Y di tempat kerjanya maka ungkapan yang terdengar diantaranya adalah, Mereka mau yang serba instan, tidak mengapresiasi proses..”, “Mereka sepertinya tidak tahan banting, manja, mudah menyerah..”, “ Kurang memiliki sopan santun saat berbicara dengan yang lebih senior..”, “Sering pindah-pindah pekerjaan, tidak mau tinggal lama pada satu posisi..”.  

Kami pernah menanyakan pendapat dari sekelompok Leader mengenai hal positif apa yang mereka lihat dari Gen Y, dan pendapat yang muncul diantaranya adalah, “Mereka lebih kreatif, banyak ide-ide baru ..”, “Lebih update dengan tehnologi terbaru..”, “Mereka cerdas dan punya rasa ingin tahu yang besar..”,      “Mereka trendy tidak hanya dalam penampilan namun juga gadget yang selalu up to date..” 

Jika dilihat seolah-olah ada perbedaan karakteristik antara Gen Y dengan generasi generasi sebelumnya. Lalu apakah memang ada perbedaan perlakuan kepada para Gen Y yang perlu dicermati oleh para Leader? Apa sebetulnya yang dibutuhkan oleh Gen Y sehingga Leader dapat memaksimalkan sumber daya  mereka?  Karena notabene sekarang persentasi jumlah Gen Y di lingkup pekerjaan makin meningkat, dan mereka mulai menduduki posisi-posisi kunci di suatu perusahaan atau organisasi. Bagaimana meyakinkan bahwa mereka memang sudah layak di posisi tersebut dan apakah stereotipe yang ada tentang generasi tersebut akan mempengaruhi bagaimana kesuksesan sebuah organisasi dalam meng’handle’ generasi Y ini?  

“Gen Y like to have a leader who is participative, charismatic, humane, and less hierarchical just like Gen X and Boomers who also prefer the same type of leader”

Karakteristik dari Gen Y yang diantaranya tergambar diatas disisi lain menunjukkan bahwa mereka sebetulnya memiliki potensi yang besar. Mereka adalah generasi yang dibesarkan di era tehnologi digital ini.  Pemilihan cara pandang dalam suatu norma bisa saja berbeda, namun lebih kepada generasi sebelumnya mendengar music melalui CD atau kaset, sedangkan Gen Y dengan MP3/youtube dan bahkan tidak mengenal CD atau kaset. Melihat situasi dengan sudut pandang berbeda karena memang dibesarkan di jaman yang berbeda.  

Menurut penelitian yang diselenggarakan oleh Center for Creative Leadership mengenai “What Makes Leader Effective” bagi Generasi Boomers (kelahiran 1946-1963), Generasi X (kelahiran 1964-1979), dan Generasi Y (lahir setelah 1980) di US, maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara tipe leadership yang didambakan oleh setiap generasi. Dengan kata lain, daripada memikirkan bagaimana perbedaan cara memimpin generasi Boomers, Gen X , atau Gen Y; lebih baik fokus pada tipe leadership yang sebetulnya efektif untuk setiap generasi, yaitu seorang Leader yang memiliki rasa pertimbangan (consideration) kepada orang lain. Pertimbangan ini ditunjukkan saat Leader memberikan perhargaan serta mengundang pendapat dari orang lain (Participative), membantu tim untuk dapat saling bekerja sama (Team-Oriented), dapat menginspirasi dan mendorong orang lain menunjukkan hal yang terbaik (Charismatic), serta menunjukkan perhatian kepada orang lain (Humane). 

Ada beberapa saran yang dapat diaplikasikan oleh Leader supaya mereka dapat lebih meng-engage para Gen Y. Karena dengan menciptakan suatu lingkungan kerja optimal , maka potensi Gen Y ini dapat tergali yang diujungnya dapat mendukung tujuan organisasi Anda. 

 

  1. Memberikan peluang mobilitas dan fleksibilitas dalam bekerja 

 

Para Gen Y biasanya sangat update dengan perkembangan tehnologi, sehingga tidak akan mengherankan apabila mereka akan memilih bekerja menggunakan peralatan elektronik yang mobile daripada statis, memilih tablet/ipad daripada bekerja di depan komputer PC. 

Mereka ingin memiliki kontrol dalam menentukan gaya kerja mereka, dan dengan membiarkan menggunakan cara sendiri maka mereka menjadi lebih efisien dengan tetap memberikan hasil yang optimal. Mereka mungkin tidak suka bekerja sampai lembur, tidak menyukai proses yang terlalu bertele-tele, karena mereka menjadi lebih kreatif dan produktif saat diberi kesempatan untuk bekerja dengan gayanya sendiri. 

Bila memungkinkan ada saatnya mereka menentukan jam kerjanya sendiri  dan mendapatkan kepercayaan bahwa mereka mampu mengatur waktunya. Tentu saja  bukan berarti tanpa kontrol atau monitoring, misalnya dalam 1 minggu kerja, diperbolehkan setengah hari atau satu hari menjadi jam kerja fleksible, itu sudah menjadi hal yang menarik bagi para Gen Y ini.  

 

  1. Memberikan feedback secara berkala  

Para Gen Y biasanya memiliki rasa ingin tahu yang besar, ingin belajar lebih banyak. Mereka juga cenderung lebih direct -to the point – dalam menyampaikan pendapat. Oleh karena itu mereka juga ingin mendapatkan masukan segera dari apa yang telah mereka hasilkan. Mereka tidak akan puas bila hanya mendapat review periodik setahun dua kali contohnya hanya disaat performance review ; mereka akan menghargai atasan yang membangun pola komunikasi reguler dengan mereka, dimana diantaranya dapat memberi serta menerima feedback. 

Cara pemberian feedback yang efektif adalah dengan menunjukkan hal yang spesifik akan apa situasinya, perilaku apa yang ditampilkan, serta apa dampak dari perilaku tersebut. Hindari pemberian feedback yang bersifat judgement atau menunjuk ke karakter pribadi karena justru  akan menimbulkan adanya konflik atau ketersinggungan dan maksud dari feedback tidak tercapai. 

 

  1. Memberikan kesempatan adanya job rotasi 

Para Gen Y , dikarenakan mereka telah berada di situasi yang terus berubah akibat kemajuan tehnologi, lebih mengapresiasi suasana kerja yang dapat memberikan variasi dalam tugas dan tantangan. Kenyamanan kerja tidak dilihat melalui seberapa aman atau secure ia di posisi tersebut, namun sejauh mana mereka dapat tertarik dengan tantangan yang diberikan, kontribusi apa yang dapat mereka berikan.  Apabila Anda ingin menjaga mereka tetap ada sekarang (tidak berhenti atau pindah ke pesaing Anda), coba berikan multi tugas atau tantangan yang bervariasi sehingga mereka enjoy dengan lingkungan kerja. 

Manfaatkanlah energi mereka, karena era digital ini adalah masa mereka. Mereka dibesarkan di masa tehnologi sudah berkembang pesat, dengan percepatan melebihi dekade sebelumnya. Sehingga akan mungkin terjadi, cara yang pada masa Anda berhasil membuat Anda sukses bisa jadi tidak akan cocok lagi di masa mereka. Maka doronglah mereka karena mereka adalah pemimpin di masa mendatang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top